Rabu, 27 Agustus 2014

Mujair dan Nila : Serupa Tapi Tidak Sama



 
Bagi yang belum pernah melihat ikan nila dan mujair sebelumnya, mungkin akan mengira kalau kedua ikan ini adalah ikan yang berbeda. Dan bagi yang pernah melihat, mungkin akan menganggap kalau ikan mujair dan nila adalah dua ikan yang sama.

Itu juga yang saya rasakan ketikan mengenal lebih dekat mengenai kedua ikan ini. Pengamatan yang kurang kerjaan ini bermula ketika sekitar satu tahun yang lalu saat saya membuat sebuah kolam kecil di belakang rumah, yang awalnya akan saya pakai untuk beternak lele kecil-kecilan dan Alhamdulillah rencana beternak itupun gagal – hahaha.  


Dan saya sendiri takkan percaya sebelum melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana kanibalnya para lele itu. Dari sekitar 50 bibit lele yang saya masukkan ke kolam, sekarang hanya tersisa belasan ekor lele tambun yang masih berenang dengan gagahnya. Para lele yang telah lulus dari seleksi alam. Hidup dari memakan daging saudaranya sendiri.

Subhanallah ! Ada ikan berkepala lele !!!

Singkat cerita, untuk mengisi kekosongan di kolam, ayah saya secara jumawa dan tanpa sepengetahuan dari saya memasukkan sekitar dua puluhan ikan nila dan mujair. Ikan-ikan ini hasil memancing dari kolam milik saudara. Saat itu saya hanya berharap semoga para lele, mujair dan nila ini dapat akur di kolam kecil yang mulai saat itu menjadi rumah tempat mereka menghabiskan sisa-sisa hidupnya.

Dan ternyata mereka akur. Dari pengamatan saya lele hanya menyerang dan memakan ikan dari jenisnya sendiri –- yang ukurannya lebih kecil atau lebih lemah—dan mereka tidak menyerang ikan jenis lain sekalipun ikan-ikan tersebut lebih kecil ukurannya. (Itu perilaku mereka didepan saya, nggak tau deh ya kalo dibelakang… ;D)

Dari saat itulah, dimulainya pengamatan saya mengenai kedua ikan yang serupa tapi tidak sama ini, mujair dan nila :

Memang secara kasat mata, ikan mujair dan nila mempunyai bentuk tubuh yang hampir sama dan sangat sulit dibedakan. Membedakan kedua ikan ini menurut saya seperti membedakan rasa dari CocaCola dan Pepsi -bagi yang jarang minum mungkin akan sulit membedakannya- atau membedakan antara kata seks dan gender; dracula dan vampire.  Ya pada kenyataannya, ikan mujair (Oreochromis mossambicus) dan ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan dua jenis ikan dari satu famili dan genus yang sama (yaitu Cichlidae; Oreochromis) yang memiliki bentuk tubuh pipih, lonjong dan tinggi. Mempunyai bentuk kepala yang besar dengan mulut besar dan lebar serta berbibir tebal (walau kedengarannya mirip tukul tapi bukan). Sisik yang besar dan kasar. Sirip punggung dan dubur yang mempunyai beberapa sirip keras tajam seperti duri.

Hal yang menarik dari kedua ikan ini adalah nama lokal mereka. Mujair. Ikan ini dinamai sesuai dengan nama penemunya. Mujair. Iya, Pak Moedjair. Ikan air tawar ini ditemukan oleh bapak tersebut pada tahun 1939 pertama kali di Blitar, Jawa Timur. Tepatnya di muara sungai serang, pantai selatan. Sebagaimana yang diketahui, mujair dan nila ini bukan ikan asli Indonesia tetapi berasal dari perairan Afrika. Sampai saat ini masih menjadi misteri bagaimana ikan mujair ini bisa sampai di Indonesia, di muara terpencil, selatan Blitar. Dari kegigihan Pak Moedjair dalam mengembangkan ikan liar air payau tersebutlah, ikan ini dapat dikenal oleh masyarakat Indonesia sampai saat ini.

Selanjutnya adalah nila. Tidak seperti sangkaan beberapa orang yang menyebutkan bahwa nama nila berasal dari warna ikan ini yang agak berwarna keunguan. Sebenarnya nama nila ini diambil dari nama daerah kampung halaman ikan ini berasal, yaitu sungai Nil. Ditemukan mulai dari Syria di utara hingga Afrika timur sampai ke Kongo dan Liberia. Diyakini pula bahwa ikan ini telah dikenal dan dikonsumsi semenjak peradaban mesir kuno. Namun secara resmi, ikan ini mulai masuk ke Indonesia sekitar tahun 1969 melalui impor dari Taiwan dan mulai tahun 1972, secara resmi nama nila mulai digunakan di Indonesia.

Dan mengenai perbedaan dari ikan nila dan mujair, berdasarkan pengamatan saya, terletak pada garis-garis di sirip ekor dan punggung. Pada ikan nila, sirip ekornya bergaris-garis hitam tegak lurus (vertikal). Pada sirip punggung, garis-garis tersebut melintang mengikuti bentuk sirip. 
Ilustrasi perbedaan mujair (kiri) dan nila (kanan)
Sedangkan pada mujair, sirip ekor dan punggung polos – agak berwarna kemerahan pada sisinya--  tidak memiliki corak garis-garis hitam.

Sebagai tambahan, pada literatur yang saya baca, dari segi perawakan dapat dikatakan bahwa ikan nila memiliki tubuh yang lebih gempal dan padat dari ikan mujair. Tetapi ikan mujair memiliki tubuh yang lebih tinggi ( tinggi ikan mujair adalah setengah dari panjang tubuhnya, sedangkan tinggi nila hanya sepertiga dari panjang tubuhnya).

Nila dan mujairIkan mujair konsumsi

 Disebutkan juga, ikan nila memiliki pertumbuhan yang lebih cepat dan ukuran nila relatif lebih besar dari ikan mujair dalam umur yang sama.  Tidak heran kalau harga ikan nila sedikit lebih tinggi dibanding ikan mujair.

Jadi begitulah sekilas cerita mengenai kolam kecil saya serta perbedaan mujair dan nila. Semoga tidak membantu apa-apa. Au revoir ! 














Baca juga : game online yang menghasilkan uang

3 komentar :

  1. Terima Kasih.., Sangat Bermanfaat Sekali. Oya, saya punya banyak sekali koleksi Emban Perak | Emban Alpaka | Emban Cincin | Emban Akik | Emban Titanium | Batu Combong | Cincin Perak | Cincin Akik | Gagang Cincin | Terima Kasih atas Kunjungannya. Salam Persaudaraan dari saya.

    BalasHapus

Mau lebih seru lagi? coba pencet Ctrl + D trus klik Done/Ok !

Berita Terpopuler