Bagi yang belum pernah melihat ikan nila dan mujair sebelumnya, mungkin akan mengira kalau kedua ikan ini adalah ikan yang berbeda. Dan bagi yang pernah melihat, mungkin akan menganggap kalau ikan mujair dan nila adalah dua ikan yang sama.
Itu juga yang saya rasakan
ketikan mengenal lebih dekat mengenai kedua ikan ini. Pengamatan yang kurang
kerjaan ini bermula ketika sekitar satu tahun yang lalu saat saya membuat
sebuah kolam kecil di belakang rumah, yang awalnya akan saya pakai untuk
beternak lele kecil-kecilan dan Alhamdulillah rencana beternak itupun gagal –
hahaha.
Dan saya sendiri takkan percaya
sebelum melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana kanibalnya para lele itu.
Dari sekitar 50 bibit lele yang saya masukkan ke kolam, sekarang hanya tersisa
belasan ekor lele tambun yang masih berenang dengan gagahnya. Para lele yang
telah lulus dari seleksi alam. Hidup dari memakan daging saudaranya sendiri.
Subhanallah ! Ada ikan berkepala lele !!! |
Singkat cerita, untuk mengisi
kekosongan di kolam, ayah saya secara jumawa dan tanpa sepengetahuan dari saya
memasukkan sekitar dua puluhan ikan nila dan mujair. Ikan-ikan ini hasil
memancing dari kolam milik saudara. Saat itu saya hanya berharap semoga para
lele, mujair dan nila ini dapat akur di kolam kecil yang mulai saat itu menjadi
rumah tempat mereka menghabiskan sisa-sisa hidupnya.
Dan ternyata mereka akur. Dari
pengamatan saya lele hanya menyerang dan memakan ikan dari jenisnya sendiri –-
yang ukurannya lebih kecil atau lebih lemah—dan mereka tidak menyerang ikan
jenis lain sekalipun ikan-ikan tersebut lebih kecil ukurannya. (Itu perilaku
mereka didepan saya, nggak tau deh ya kalo dibelakang… ;D)
Dari saat itulah, dimulainya
pengamatan saya mengenai kedua ikan yang serupa tapi tidak sama ini, mujair dan
nila :
Memang secara kasat mata, ikan
mujair dan nila mempunyai bentuk tubuh yang hampir sama dan sangat sulit
dibedakan. Membedakan kedua ikan ini menurut saya seperti membedakan rasa dari CocaCola dan Pepsi -bagi yang jarang minum mungkin akan sulit membedakannya- atau membedakan antara kata seks dan gender; dracula dan
vampire. Ya pada kenyataannya, ikan mujair
(Oreochromis mossambicus) dan ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan dua
jenis ikan dari satu famili dan genus yang sama (yaitu Cichlidae; Oreochromis) yang
memiliki bentuk tubuh pipih, lonjong dan tinggi. Mempunyai bentuk kepala yang
besar dengan mulut besar dan lebar serta berbibir tebal (walau kedengarannya mirip tukul tapi bukan). Sisik yang besar dan kasar. Sirip punggung dan dubur
yang mempunyai beberapa sirip keras tajam seperti duri.
Hal yang menarik dari kedua ikan
ini adalah nama lokal mereka. Mujair. Ikan ini dinamai sesuai dengan nama
penemunya. Mujair. Iya, Pak Moedjair. Ikan air tawar ini ditemukan oleh bapak
tersebut pada tahun 1939 pertama kali di Blitar, Jawa Timur. Tepatnya di muara
sungai serang, pantai selatan. Sebagaimana yang diketahui, mujair dan nila ini bukan
ikan asli Indonesia tetapi berasal dari perairan Afrika. Sampai saat ini masih
menjadi misteri bagaimana ikan mujair ini bisa sampai di Indonesia, di muara
terpencil, selatan Blitar. Dari kegigihan Pak Moedjair dalam mengembangkan ikan
liar air payau tersebutlah, ikan ini dapat dikenal oleh masyarakat Indonesia
sampai saat ini.
Selanjutnya adalah nila. Tidak
seperti sangkaan beberapa orang yang menyebutkan bahwa nama nila berasal dari
warna ikan ini yang agak berwarna keunguan. Sebenarnya nama nila ini diambil
dari nama daerah kampung halaman ikan ini berasal, yaitu sungai Nil. Ditemukan
mulai dari Syria di utara hingga Afrika timur sampai ke Kongo dan Liberia.
Diyakini pula bahwa ikan ini telah dikenal dan dikonsumsi semenjak peradaban
mesir kuno. Namun secara resmi, ikan ini mulai masuk ke Indonesia sekitar tahun
1969 melalui impor dari Taiwan dan mulai tahun 1972, secara resmi nama nila
mulai digunakan di Indonesia.
Dan mengenai perbedaan dari ikan nila dan mujair, berdasarkan pengamatan saya, terletak pada garis-garis di sirip ekor dan punggung. Pada ikan nila, sirip ekornya bergaris-garis hitam tegak lurus (vertikal). Pada sirip punggung, garis-garis tersebut melintang mengikuti bentuk sirip.
Ilustrasi perbedaan mujair (kiri) dan nila (kanan) |
Sedangkan pada mujair, sirip ekor
dan punggung polos – agak berwarna kemerahan pada sisinya-- tidak memiliki corak garis-garis hitam.
Sebagai tambahan, pada literatur
yang saya baca, dari segi perawakan dapat dikatakan bahwa ikan nila memiliki
tubuh yang lebih gempal dan padat dari ikan mujair. Tetapi ikan mujair memiliki
tubuh yang lebih tinggi ( tinggi ikan mujair adalah setengah dari panjang
tubuhnya, sedangkan tinggi nila hanya sepertiga dari panjang tubuhnya).


Disebutkan juga, ikan nila memiliki pertumbuhan
yang lebih cepat dan ukuran nila relatif lebih besar dari ikan mujair dalam
umur yang sama. Tidak heran kalau harga
ikan nila sedikit lebih tinggi dibanding ikan mujair.
Jadi begitulah sekilas cerita mengenai kolam kecil saya serta perbedaan mujair dan nila. Semoga tidak membantu apa-apa. Au revoir !
Baca juga : game online yang menghasilkan uang
Salam !
BalasHapusTernyata beda ya
BalasHapus