Kamis, 28 Agustus 2014

ASTM Dan Lubrikasi

Apa itu ASTM ? 
ASTM (American Society for Testing Materials) adalah  standard  operasional / metode analisa Amerika untuk pengujian material, yang sudah dibakukan. 

Pada evaluasi atau pengukuran suatu besaran, terdapat beberapa prosedur yang harus dilakukan dengan benar supaya hasilnya dapat dipertanggungjawabkan. Prosedur – prosedur itu sendiri akan mengikuti salah satu standar baku yang ditetapkan oleh suatu badan atau otoritas tertentu, salah satunya adalah ASTM. Standar ini diadopsi oleh banyak standar turunan, salah satunya SNI atau Standar Nasional Indonesia. ASTM mengeluarkan standard untuk pengujian material. ASTM mengeluarkan (menjual) Buku dan CD yang berisi Standard Pengujian

Sedangkan ASM adalah asosiasinya di Amerika. ASM mengembangkan keilmuan yang berhubungan dengan material khususnya logam. ASM biasanya mengeluarkan buku, Handbook, References, mengadakan pelatihan, mengadakan Seminar dll.  

Material standar yang dimaksud adalah material yang digunakan untuk Standarisasi. Keduanya (ASM dan ASTM) tidak berhak mengeluarakan sertifikat, yang berhak adalah Badan Standarisasi (misalnya NIST di Amerika) atau yang lainnya.

Standar ASTM dapat di download pada link dibawah ini 

>>Download Standard ASTM  Section 1 - 4(73 MB)<<

>>Download ASTM for Lubricant (200 MB)<< 

Daftar isi standard ASTM

Section 01 – Iron and Steel Products
  • Volume 01.01 Steel–Piping, Tubing, Fittings
  • Volume 01.02 Ferrous Castings; Ferroalloys
  • Volume 01.03 Steel–Plate, Sheet, Strip, Wire; Stainless Steel Bar
  • Volume 01.04 Steel–Structural, Reinforcing, Pressure Vessel, Railway
  • Volume 01.05 Steel–Bars, Forgings, Bearing, Chain, Springs
  • Volume 01.06 Coated Steel Products
  • Volume 01.07 Ships and Marine Technology
  • Volume 01.08 Fasteners; Rolling Element Bearings
Section 02 – Nonferrous Metal Products
  • Volume 02.01 Copper and Copper Alloys
  • Volume 02.02 Aluminum and Magnesium Alloys
  • Volume 02.03 Electrical Conductors
  • Volume 02.04 Nonferrous Metals–Nickel, Cobalt, Lead, Tin, Zinc, Cadmium, Precious, Reactive, Refractory Metals and Alloys; Materials for Thermostats, Electrical Heating and Resistance Contacts, and Connectors
  • Volume 02.05 Metallic and Inorganic Coatings; Metal Powders, Sintered P/M Structural Parts
Section 03 – Metals Test Methods and Analytical Procedures
  • Volume 03.01 Metals — Mechanical Testing; Elevated and Low-Temperature Tests; Metallography
  • Volume 03.02 Wear and Erosion; Metal Corrosion
  • Volume 03.03 Nondestructive Testing
  • Volume 03.04 Magnetic Properties
  • Volume 03.05 Analytical Chemistry for Metals, Ores, and Related Materials
  • Volume 03.06 Molecular Spectroscopy; Surface Analysis
Section 04 – Construction
  • Volume 04.01 Cement; Lime; Gypsum
  • Volume 04.02 Concrete and Aggregates
  • Volume 04.03 Road and Paving Materials; Vehicle-Pavement Systems
  • Volume 04.04 Roofing and Waterproofing
  • Volume 04.05 Chemical-Resistant Nonmetallic Materials; Vitrified Clay Pipe; Concrete Pipe; Fiber-Reinforced Cement Products; Mortars and Grouts;
  • Masonry; Precast Concrete
  • Volume 04.06 Thermal Insulation; Environmental Acoustics
  • Volume 04.07 Building Seals and Sealants; Fire Standards; Dimension Stone
  • Volume 04.08 Soil and Rock (I): D 420 – D 5611
  • Volume 04.09 Soil and Rock (II): D 5714 – latest
  • Volume 04.10 Wood
  • Volume 04.11 Building Constructions (I): E 72 – E 1670
  • Volume 04.12 Building Constructions (II): E 1671 – latest; Property Management Systems; Technology and Underground Utilities
  • Volume 04.13 Geosynthetics
Section 05 – Petroleum Products, Lubricants, and Fossil Fuels
  • Volume 05.01 Petroleum Products and Lubricants (I): D 56 – D 3230
  • Volume 05.02 Petroleum Products and Lubricants (II): D 3231 – D 5302
  • Volume 05.03 Petroleum Products and Lubricants (III): D 5303 – D 6553
  • Volume 05.04 Petroleum Products and Lubricants (IV): D 6557 – latest
  • Volume 05.05 Test Methods for Rating Motor, Diesel, and Aviation Fuels; Catalysts; Manufactured Carbon and Graphite Products
  • Volume 05.06 Gaseous Fuels; Coal and Coke
Section 06 – Paints, Related Coatings, and Aromatics
  • Volume 06.01Paint — Tests for Chemical, Physical, and Optical Properties; Appearance
  • Volume 06.02 Paint — Products and Applications; Protective Coatings; Pipeline Coatings
  • Volume 06.03 Paint — Pigments, Drying Oils, Polymers, Resins, Naval Stores, Cellulosic Esters, and Ink Vehicles
  • Volume 06.04 Paint — Solvents; Aromatic Hydrocarbons
Section 07 – Textiles
  • Volume 07.01 Textiles (I): D 76 – D 4391
  • Volume 07.02 Textiles (II): D 4393 – latest
Section 08 – Plastics
  • Volume 08.01 Plastics (I): D 256 – D 3159
  • Volume 08.02 Plastics (II): D 3222 – D 5083
  • Volume 08.03 Plastics (III): D 5117 – latest
  • Volume 08.04 Plastic Pipe and Building Products
Section 09 – Rubber
  • Volume 09.01 Rubber, Natural and Synthetic — General Test Methods; Carbon Black
  • Volume 09.02 Rubber Products, Industrial — Specifications and Related Test Methods; Gaskets; Tires
Section 10 – Electrical Insulation and Electronics
  • Volume 10.01 Electrical Insulation (I): D 69 – D 2484
  • Volume 10.02 Electrical Insulation (II): D 2518 – latest
  • Volume 10.03 Electrical Insulating Liquids and Gases; Electrical Protective Equipment
  • Volume 10.04 Electronics
Section 11 – Water and Environmental Technology
  • Volume 11.01 Water (I)
  • Volume 11.02 Water (II)
  • Volume 11.03 Atmospheric Analysis; Occupational Health and Safety; Protective Clothing
  • Volume 11.03 Atmospheric Analysis; Occupational Health and Safety; Protective Clothing
  • Volume 11.04 Waste Management
  • Volume 11.05 Pesticides; Environmental Assessment; Hazardous Substances and Oil Spill Responses
  • Volume 11.06 Biological Effects and Environmental Fate; Biotechnology
Section 12 – Nuclear, Solar, and Geothermal Energy
  • Volume 12.01 Nuclear Energy (I)
  • Volume 12.02 Nuclear Energy (II), Solar, and Geothermal Energy
Section 13 – Medical Devices and Services
  • Volume 13.01 Medical and Surgical Materials and Devices; Anesthetic and Respiratory Equipment; Pharmaceutical Application of Process Analytical Technology
  • Volume 13.02 Emergency Medical Services; Search and Rescue
Section 14 – General Methods and Instrumentation
  • Volume 14.01 Healthcare Informatics
  • Volume 14.02 General Test Methods; Forensic Psychophysiology; Forensic Sciences; Terminology; Conformity Assessment; Statistical Methods; Nanotechnology
  • Volume 14.03 Temperature Measurement
  • Volume 14.04 Laboratory Apparatus; Degradation of Materials; SI; Oxygen Fire Safety
Section 15 – General Products, Chemical Specialties, and End Use Products
  • Volume 15.01 Refractories, Activated Carbon; Advanced Ceramics
  • Volume 15.02 Glass; Ceramic Whitewares
  • Volume 15.03 Space Simulation; Aerospace and Aircraft; Composite Materials
  • Volume 15.04 Soaps and Other Detergents; Polishes; Leather; Resilient Floor Coverings
  • Volume 15.05 Engine Coolants; Halogenated Organic Solvents and Fire Extinguishing Agents; Industrial and Specialty Chemicals
  • Volume 15.06 Adhesives
  • Volume 15.07 Sports Equipment and Facilities; Pedestrian Walkway; Safety and Footwear; Amusement Rides and Devices; Consumer Products; Snow Skiing; Light Sport Aircraft; Unmanned Air Vehicle Systems; Normal and Utility Category Airplane Electrical Wiring
  • Volume 15.08 Sensory Evaluation; Livestock, Meat, and Poultry Evaluation Systems; Vacuum Cleaners; Security Systems and Equipment; Detention and Correctional Facilities; Food Service Equipment; Homeland Security Applications
  • Volume 15.09 Paper; Packaging; Flexible Barrier Materials; Business Imaging Product 

Menurut Wikipedia :

ASTM adalah organisasi internasional sukarela yang mengembangkan standardisasi teknik untuk material, produk, sistem dan jasa. ASTM Internasional berpusat di Amerika Serikat.ASTM merupakan singkatan dari American Society for Testing and Material, dibentuk pertama kali pada tahun 1898 oleh sekelompok insinyur dan ilmuwan untuk mengatasi bahan baku besi pada rel kereta api yang selalu bermasalah. Sekarang ini, ASTM mempunyai lebih dari 12.000 buah standar. Standar ASTM banyak digunakan pada negara-negara maju maupun berkembang dalam penelitian akademisi maupun industri.



Sejarah ASTM
Kereta api merupakan salah satu revolusi paling penting dalam awal perkembangan revolusi industri di dunia. Penemuan lokomotif, rel kereta serta mesin uap membuka babak baru dalam lahirnya revolusi industri di dunia. Tetapi dalam perjalanan industri tersebut, produsen banyak mengalami kendala dalam hal kualitas material lokal yang mereka terima dikarenakan material yang saat itu digunakan tidak terlalu bagus sehingga rel-rel --khususnya buatan Amerika-- selalu mengalami masalah. Karena itulah produsen-produsen rel kereta api Amerika saat itu lebih memilih untuk mengimpor material baja dari inggris yang walaupun lebih mahal tetapi sudah terbukti kehandalannya.  
Untuk menghindari masalah terdahulu, maka para produsen Amerika mengeluarkan deskripsi rinci mengenai kualitas bahan yang mereka ingin terima untuk memastikan bahwa pasokan material yang mereka dapatkan dari para supplier memenuhi standar kualitas tertentu. 
Sejak saat itu, standar-standar mengenai kualitas material mulai diterapkan. Contohnya saat pihak persenjataan Amerika saat itu memesan senjata dari pabrik baja, maka spesifikasi, komposisi kimia serta karakteristik fisik dari material turut serta dalam kontrak pembelian senjata tersebut.
Pemerintah federal juga meminta para produsen baja untuk mengirimkan sampel dari setiap batch baja yang kemudian dilakukan tes sederhana untuk mengukur kekuatan tarik dan elastisitas baja tersebut. Para perusahaan baja Amerika menggunakan pengujian peralatan baru seperti tester baja Riehle atau versi Tinius Olsen Little Giant yang digunakan untuk menentukan kekuatan tarik

Metode Standar ASTM


Sebagai contoh, penerapan metode standar ASTM pada section 5 untuk proses lubrikasi atau pelumasan. 

Seleksi Base Oil
Pengujian sifat fisika dan sifat kimia base oil akan digunakan sebagai parameter pertama untuk menentukan kecocokannya sebagai bahan dasar pelumas yang dihasilkan. Baik alat maupun metode pengujiannya sudah dibakukan oleh ASTM. Perincian sifat-sifat yang diuji untuk base oil adalah sebagai berikut :
  • Appearance
  • Spesific Gravity
  • Viskositas kinematik
  • Indeks Viskositas
  • Warna ASTM
  • Stabilitas warna (48 jam pada 100 deg C)
  • Titik nyala
  • Titik tuang
  • Titik kabut
  • Kandungan abu
  • Kandungan asam total
Karena base oil adalah komponen dasar yang memberikan sifat-sifat pelumasan, maka seleksi base oil harus diperketat agar produk yang akan dihasilkan memberikan unjuk kerja dan klasifikasi seperti yang diharapkan. Sifat-sifat fisika dan kimia itu perlu diuji agar kualitas dan homogenitas pelumas yang dihasilkan dapat dikendalikan. Sifat-sifat yang diuji di laboratorium diantaranya adalah :

Specific Gravity (SG)
SG pelumas digunakan untuk mengetahui kemurnian pelumas, karena hasil pengujian ini akan lebih konkrit bila dibandingkan dengan uji kenampakan. Uji SG untuk pelumas dilakukan dengan metode ASTM D-941 menggunakan alat hydrometer.
Viskositas
Pengukuran Kinematic Viscosity  dengan metoda ASTM D-445 
Pengukuran Kinematic Viscosity (ASTM D-445) adalah salah satu pengukuran ciri-ciri fisik yang penting dari minyak pelumas, Kinematic Viscosity ini berhubungan dengan kekentalan atau merupakan salah satu persyaratan yang di tetapkan oleh SAE (Society of Automotive Engineers) atau ISO (International Organization for Standardization) ; dalam spesifikasi teknik pelumas / minyak pelumas untuk kendaraan bermotor /Industri. Persyaratan standar inilah yang harus di penuhi oleh suatu pelumas.!! Jadi jika ada suatu pelumas, salah satu propertiesnya tidak masuk standar, maka dapat dikatakan bahwa pelumas tersebut di luar standar yang telah ditentukan.

Kembali pada metoda ASTM D-445 yang mengatur prosedur untuk menentukan kinematic viscosity produk-produk perminyakan. Setelah kinematic viscosity diketahui, dynamic viscosity dapat diperoleh dengan mengalikan kinematic viscosity tersebut dengan density.
Alat uji untuk mengukur ASTM D-445 salah satunya adalah Visco Meter . Prinsip kerja alat ini adalah dengan mengukur waktu yang diperlukan oleh sejumlah liquid yang mengalir dibawah gaya grafitasi dalam viscometer pada kondisi temperature tertentu (biasanya pada temperatur 40 dan 100 Derajat Celcius). Kinematic viscosity diperoleh dengan mengalikan waktu yang diperoleh tersebut dengan konstanta viscometer sesuai hasil kalibrasi.
Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, viskositas pelumas merupakan factor penting yang akan mempengaruhi fungsi-fungsi pelumas yang diembannya. Viskositas dari pelumas yang biasa dipakai adalah viskositas kinetic, diuji dengan metode ASTM D 445.

Viskosity Indeks (VI)
Viscosity Indeks adalah bilangan empiris yang digunakan sebagai karakteristik viskositas kinematik pelumas, yang bervariasi karena perubahan suhu. Harha VI suatu produk pelumas ditentukan melalui pengukuran harga viskosita kinematik dalam dua suhu yang jauh berbeda. Suhu yang diambil sesuai standar yang telah dibakukan yaitu 40 deg Cdan 100 deg C. Harga Viskositas indek dapat dihitung dengan menggunakan rumus dan tabel ASTM D 2270.
Warna
Uji warna untuk pelumas juga akan menunjukkan kemurniannya. Selain sebagai daya tarik produk, warna juga dapat dipakai sebagai dasar untuk mengetahui pada tingkat awal adanya deteriorasi ataupun kontaminasi. Metode uji warna yang dilakukan adalah ASTM D 1500-87
Total Base Number (TBN)
Aditif jenis detergent dan anti korosif memiliki sifat basa. Sifat basa ini dinyatakan sebagai TBN . Ada 2 metode dalam menentukan TBN yaitu ASTM D 2896 dan ASTM D 4739.
Titik Tuang
Titik tuang adalah suhu terendah dimana pelumas masih dapat mengalir. Sifat ini penting untuk kemudahan penyalaan mesin pada suhu rendah terutama musim dingin di wilayah belahan dunia yang memiliki 4 musim. Karakteristik ini diuji dengan menggunakan metode ASTM D 97.
Titik Nyala
Titik nyala adalah suhu terendah pada saat api dapat menyebabkan terbakarnya uap pelumas. Nilai ini diperlukan untuk penanganan produk pelumas selama pengiriman dan penimbunan. Karakteristik ini diuji dengan menggunakan metode ASTMD 92 (Cleveland Open Cup) dan ASTM D 93 (Pensky Martens Close Cup).
Uji Korosifitas Terhadap Tembaga
Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah pelumas mengandung komponen yang korosif terhadap logam Cu. Sifat korosif ini diuji menggunakan metode ASTM D 130 yang hasilnya diklasifikasikan dalam 4 kelas yaitu agak buram (slight tarnish), buram (moderate tarnish), buram gelap (dark tarnish), dan korosi.
Kandungan Air
Air di dalam pelumas tidak dikehendaki, karena selain akan menurunkan viskositas juga bersifat korosif terhadap logam. Untuk mengukur besarnya kandungan air dalam pelumas digunakan metode ASTM D 95 dan nilainya dinyatakan dalam % volume.
Angka Pengendapan
Angka pengendapan (precipitation number) dinyatakan sebagai ml endapan yang terbentuk dari 10 ml pelumas yang dicampur dengan 90 ml naphta. Angka ini diperlukan untuk mengetahui jumlah komponen yang tidak larut dalam solvent naphta. Pengujian ini dilakukan dengan metode ASTM D 91-61, dan hasilnya akan menunjukkan adanya resin, abu, dan debu di dalam pelumas.
Conradson Carbon Residue (CCR)
Pengujian terhadap CCR akan menunjukkan indikasi terbentuknya deposit carbon di dalam ruang pembakaran. Bila sebagian kecil dari pelumas terbakar di ruang pembakaran, maka deposit karbon yang terbentuk akan meninggalkan kerak yang tetap membara bahkan pada saat mesin telah dimatikan. Kerak yang membara ini selanjutnya akan mempercepat keausan logam di ruang bakar baik karena panas maupun karena gesekan. CCR ditentukan dengan menggunakan metode ASTM D 189 dan harganya dinyatakan dalam % berat.
Kandungan Abu
Kandungan abu dalam pelumas berasal dari logam yang memang terdapat dalam pelumas. Abu tersebut sebagian besar akan keluar dari ruang pembakaran sebagai asap bersama-sama dengan abu hasil pembakaran bahan bakar. Keberadaan abu dalam pelumas tidak disenangi karena akan mempercepat proses pengikisan, dan bila terlalu banyak akan membentuk deposit di ruang bakar. Penentuan kandungan abu dilakukan dengan 2 metode yaitu metode ASTM D 482 (abu langsung) dan metode ASTM D 874-84 (abu yang disulfatkan) dan hasilnya dinyatakan dalam % berat.

Untuk grease atau gemuk, ketentuan mutunya ditentukan berdasarkan beberapa uji mekanik ASTM, diantaranya adalah :

1. ASTM D 2266 untuk menentukan sifat anti aus
2. ASTM D 2596 untuk menentukan sifat tekanan ekstrim
3. ASTM D 2596 untuk menentukan kestabilan mekanik dari grease

Seperti halnya kekentalan pada pelumas, untuk grease dinyatakan dengan kekerasan (consistency). Grease pada dasarnya merupakan pelumas yang dipadatkan dengan sabun logam atau non sabun logam. 

Pengelompokannya ditentukan oleh National Lubricating Grease Institute (NLGI) yang membagi kekerasan grease menjadi 9 tingkat kekerasan, dari tingkat kekerasan 000 sampai dengan 6. Makin besar angka NLGI, makin keras greasenya dan makin kecil nomor NLGI-nya makin lunak greasenya.

Kriteria Mutu Pelumasan Menurut ASTM D 5950

NLGI GA
Digunakan untuk bantalan gelinding, baik pada kenderaan penumpang, truk dan kenderaan atau mesin lain dengan beban ringan. Mampu bekerja pada suhu operasi antara–20oC-70oC. Kemampuan layanan yang lebih spesifik untuk klasifikasi GA tidak diperlukan.

NLGI GA
Digunakan untuk bantalan gelinding, mesin-mesin industri yang bekerja sedang, bantalan roda pada kenderaan penumpang, truk dan kenderaan atau mesin lain dengan beban ringan sampai dengan beban sedang. Mampu bekerja pada temperatur operasi antara –20oC – 70oC.

NLGI GA
Digunakan untuk bantalan luncur, bantalan roda pada kenderaan penumpang, truk dan kenderaan atau mesin lain dengan beban ringan sampai berat. Mampu bekerja pada suhu operasi antara –20oC – 160oC bahkan bisa mencapai 200 C.


1.      Analisa Viskositas
1.1.      Prinsip
Viskositas merupakan suatu ukuran tahanan yang diberikan oleh suatu bahan cair untuk mengalir pada suhu tertentu. Selama mesin bekerja, suhu didalam mesin semakin lama akan semakin meningkat. Kenaikan suhu menyebabkan viskositas pelumas semakin menurun. Hal ini sangat mempengaruhi gesekan antara bagian mesin vang bergerak. Untuk mengurangi gesekan antar metal yang dapat mengakibatkan keausan pada mesin diperlukan pelumas vang mempunyai viskositas index tinggi. Pengujian viskositas pelumas dengan mengamati waktu vang dibutuhkan untuk mengalirkan pelumas dalarn kapiler pada suhu tertentu sehingga didapatkan harga viskositas kinematik dari pelumas.

1.2.      Peralatan
1.2.1.      Viskometer Tube
1.2.2.      Bath
1.2.3.      Thermometer
1.2.4.      Penyangga Viskometer tube
1.2.5.      Stopwatch

1.3.      Pereaksi
1.3.1.      Poly Alpha Olefin (PAO)

1.4.      Prosedure Kerja
1.4.1.      Atur suhu bath yang berisi PAO hingga suhu 40 °C dan 100 °C.
1.4.2.      Biarkan hingga suhu Bath stabil
1.4.3.      Pipet sample pelumas yang akan di analisa kedalam viscometer tube sampai batas 2 tera
1.4.4.      Masukkan viscometer tube kedalam viscometer bath dan biarkan ±15 menit sampai suhu pelumas sama dengan suhu media (40 °C dan 100 °C)
1.4.5.      Alirkan sampel melalui kapiler dari batas atas ke bawah yang telah ditentukan pada kapiler (pengukuran pada suhu 40 °C dan 100 °C)
1.4.6.      Catat waktu pengaliran pelumas
1.4.7.      Perhitungan :
Viscositas (Cst)        = Waktu Alir x Konstanta Viscometer Tube

2.      Viskositas Indeks (VI)
Viskositas indeks merupakan bilangan empiris yang menunjukkn sifat perubahan viskositas minyak pelumas terhadap perubahan temperatur. Minyak pelumas dengan VI lebih rendah adalah minyak pelumas dengan rentang perubahan viskositas yang lebih besar untuk perbedaan temperatur yang sama. Sedangkan pada minyak pelumas dengan indeks viskositas tinggi, pelumasannya akan berlangsung lebih baik dengan rentang perbedaan temperatur yang lebih lebar. Oleh karena itu, indeks viskositas minyak  pelumas dibatasi oleh nilai minimunnya dan baik untuk pelumas monograde dan multigrade.

3.      Warna (ASTM D-1500)
3.1.      Prinsip
Penentuan warna produk minyak bumi digunakan terutama untuk keperluan kontrol pabrik dan suatu ciri mutu yang penting karena warna paling mudah teramati oleh pemakai produk. Warna bertindak sebagai indikasi dan tingkat kemumian bahan, dimana bila kisaran warna produk diketahui maka variasi diluar kisaran yang ditentukan dapat merupakan indikasi kemungkinan terkontaminasi dengan produk lain. Namun warna tidak selalu menunjukkan mutu produk.

3.2.      Peralatan
3.2.1.      Colorimeter, terdiri dari sumber cahava, gelas warna standar. Rumah tabung contoh bertutup.
3.2.2.      Tabung contoh untuk pembanding yang diisi dengan air suling.
3.2.3.      Tabung uji untuk tempat pelumas yang akan diuji warnanya.

3.3.      Pereaksi
3.3.1.      Aquadest

3.4.      Prosedur Kerja
3.4.1.      Nyalahkan alat Colorimeter (±15 menit sebelum alat digunakan)
3.4.2.      Isi tabung pembanding dengan aquadest hingga batas tera, dan tempatkan pada kompartemen colorimeter.
3.4.3.      Isi tabung sample dengan pelumas dan masukkan kedalam kompartemen colorimeter lain.
3.4.4.      Tutup Colorimeter untuk menghindari masuknya cahaya dri luar
3.4.5.      Hidupkan sumber cahaya Colorimeter
3.4.6.      Bandingkan warna pelumas dengan warna standar. Warna sample harus sama atau mendekati warna standar
3.4.7.      Jika warna telah sama atau mendekati standar, catat nilai warna yang didapat
3.4.8.      Matikan Sumber cahaya, keluarkan tabung berisi sample.

4.      Densitas (Kerapatan)
4.1.      Prinsip
Kerapatan merupakan salah satu faktor penentu kualitas produk  pelumas yang dipasarkan. Pengukuran kerapatan bertujuan untuk mengetahui besarya mutu yang tampak dari kekentalan. Kerapatan dapat dikatakan sebagai massa jenis dari pelumas sehingga kerapatan dapat juga diartikan sebagai besarnya massa dari suatu zat persatuan volume. Pengukuran densitas manggunakan alat yaitu densitymeter pada suhu 15° C.

4.2.      Peralatan
4.2.1.      Densitymeter
4.2.2.      Syring

4.3.      Pereaksi
4.3.1.      N-Hexan
4.3.2.      Aceton

4.4.      Prosedur Kerja
4.4.1.      Nyalahkan Alat densitymeter (±15 menit sebelum alat digunakan)
4.4.2.      Bilas alat dengan larutan pembersih (n-Hexan) dan larutan pengering (aceton)
4.4.3.      Nyalahkan aliran udara agar alat bersih dan kering
4.4.4.      Ambil sample pelumas dengan menggunakan syring
4.4.5.      Masukkan sample pelumas kedalam pipa kapiler alat
4.4.6.      Tekan tombol Read
4.4.7.      Ulangi pengukuran sample hingga nilainya stabil

5.      Total Base Number (TBN)
5.1.      Prinsip
Minyak pelumas baru dan bekas dapat mengandung konstituen basa vang berasal additif yang ditambahkan. Konstituen yang mungkin menyebabkan sifat basa dapat berupa basa organik, basa anorganik, senyawa, amino, garam asam lemah (garam sabun), garam dari basa poli asam, dan garam dari logam-logam berat.

5.2.      Peralatan
5.2.1.      TBNmeter yang dilengkapi dengan elektroda dan pengaduk listrik
5.2.2.      Buret ukuran 10 atau 20 ml dengan skala 0.05 ml
5.2.3.      Beaker glass 100 ml

5.3.      Pereaksi
5.3.1.      Asam perklorat 0.1 N
5.3.2.      Asam Asetat Glasial
5.3.3.      Chloro Benzena

5.4.      Prosedur Kerja
5.4.1.      Timbang ±0.2 gram sample pelumas dalam beaker 100 ml
5.4.2.      Tambahkan pereaksi 60 ml (40 ml kloro benzene dan 20 ml asam asetat)
5.4.3.      Titrasi dengan menggunakan TBNmeter, dengan titran asam perklorat 0.1 N
5.4.4.      Tekan tombol Read dan tunggu hasil pembacaan
5.4.5.      Hasil langsung terbaca secara komputerisasi



6.      Total Acid Number (TAN)

6.1.      Prinsip
Total acid number (TAN) adalah jumlah kalium hidroksida dalam miligram yang diperlukan untuk menetralkan asam dalam satu gram minyak. Ini adalah pengukuran kualitas penting dari minyak mentah. Nilai TAN menunjukkan kepada mentah kilang minyak potensi korosi masalah. Hal ini biasanya asam naftenat dalam minyak mentah yang menyebabkan masalah korosi. Jenis korosi disebut sebagai korosi asam naftenatatau NAC.

6.2.      Peralatan
6.2.1.      TANmeter yang dilengkapi dengan elektroda dan pengaduk listrik
6.2.2.      Buret ukuran 10 atau 20 ml dengan skala 0.05 ml
6.2.3.      Beaker glass 100 ml

6.3.      Pereaksi
6.3.1.      KOH Alkoholis 0.1 N

6.4.      Prosedur Kerja
6.4.1.      Timbang ±2.0 gram sample pelumas dalam beaker 100 ml
6.4.2.      Tambahkan 50 ml Naptolbenzena
6.4.3.      Titrasi dengan menggunakanTAN meter, dengan titran KOH Alkoholis 0.1 N
6.4.4.      Tekan tombol Read dan tunggu hasil pembacaan
6.4.5.      Hasil langsung terbaca secara komputerisasi

7.      Metal Conten (Mengunakan Alat Atomic Absorption Spectroscopy (AAS))

7.1.      Prinsip
Spektroskopi serapan atom (AAS) adalah metode penentuan spektro analytical untuk penentuan kualitatif dan kuantitatif dari unsur-unsur kimia menggunakan penyerapan radiasi optik (cahaya) oleh atom bebas dalam bentuk gas. Prinsip kerja berdasarkan Hukum Lambert-Beer.

7.2.      Peralatan
7.2.1.      Atomic Absorption Spectroscopy (AAS)
7.2.2.      Gas (Udara-Asetilen, Nitros oxide-asetilen)

7.3.      Pereaksi
7.3.1.      Xylene

7.4.      Prosedur Kerja (Menggunakan alat AAS)

8.      Flash Point COC (Titik Nyala)

8.1.      Prinsip
Titik Nyala (Flash Point) adalah temperature dimana timbul sejumlah uap yang apabila bercampur dengan udara akan membentuk suatu campuran yang mudah menyala. Titik nyala dapat diukur dengan jalan melewatkan nyala api pada pelumas yang dipanaskan secara teratur. Titik nyala merupakan sifat pelumas yang digunakan untuk prosedur penyimpanan agar aman dari bahaya kebakaran. Semakin tinggi titik nyala suatu pelumas berarti semakin aman dalam penggunaan dan penyimpanan.

8.2.      Peralatan
8.2.1.      Cleveland Open Cup
Terdiri dari cawan, pelat pemanas, aplikator api penguji, pemanas dan penyangga tempat thermometer.
8.2.2.      Tabung gas
8.2.3.      Korek Api

8.3.      Pereaksi
8.3.1.      Tidak ada

8.4.      Prosedur Kerja
8.4.1.      Tempatkan peralatan COC diatas meja / tempat yang kuat
8.4.2.      Memasukan sampel pelumas yang akan di uji dalam cawan hingga tanda batas bagian atas
8.4.3.      Pasang peralatan pengukur temperatur dalam posisi vertikal dengan dasar thermometer pada jarak ± 6.4 mm diatas dasar bagian dalam cawan uji dan alat terletak pada titik tengah antara pusat dan tepi cawan uji dalam satu diameter tegak lurus terhadap lingkaran lintasan api penguji dan pada sisi yang berlawanan dengan posisi aplikator api penguji.
8.4.4.      Sampel dipanaskan perlahan, dimana pada selang waktu tertentu dilewatkan api penguji melintas diatas cawan.
8.4.5.      Amati perubahan yang terjadi. Jika mulai muncul asap, amati dengan seksama.
8.4.6.      Pada saat api dilewatkan dan muncul api yang pertama, maka itulah titik nyala sample
8.4.7.      Lihat temperature di thermometer dan catat suhu flash pointnya. 

9.      Pour Point (Titik Tuang)

9.1.      Prinsip
Titik tuang pelumas adalah suhu terendah dimana pelumas masih dapat mengalir pada kondisi tertentu

9.2.      Peralatan
9.2.1.      Alat uji Pour Point
9.2.2.      Tabung (dilengkapi dengan tutup karet)
9.2.3.      Thermometer
9.2.4.      Stopwatch

9.3.      Pereaksi
9.3.1.      Tidak ada

9.4.      Prosedur Kerja
9.4.1.      Tuangkan sample pelumas dalam tabung uji hingga maniskus atas
9.4.2.      Tutup tabung uji dengan karet penutup yang dilengkapi dengan thermometer
9.4.3.      Masukkan tabung uji kedalam jaket pendingin alat uji Pour point
9.4.4.      Penempatan tabung uji sample pada alat uji pour point dimulai dari suhu 0 °C, -17 °C, -34 °C, -54 °C
9.4.5.      Amati perubahan yang terjadi. Pemeriksaan pour point didapat pada suhu tertinggi dimana pelumas sudah tidak dapat dituang. Artinya jika pada sampel cairan tidak bergerak atau dituang dalam 5 detik maka pada kondisi tersebut merupakan titik tuang (Pour Point). Pengamatan titik tuang ini sebenarnya ditentukan dengan menambahkan 3 °C pada temperature pour point pengamatan. (T = T0 + 3 °C).


10.  Foaming Characteristic (Pembusaan)

10.1.  Prinsip
Mengukur kandungan busa yang ada dalam minyak pelumas.

10.2.  Peralatan
10.2.1.  Seperangkat Alat uji Foaming

10.3.  Pereaksi
10.3.1.  Tidak ada

10.4.  Prosedur Kerja
10.4.1.  Masukkan sample pelumas kedalam tabung uji 200 ml
10.4.2.  Kondisikan sample dalam penangas foaming (suhu 24.3 °C/suhu ruang) selama ±15 menit atau hingga suhu sample pelumas sesuai dengan suhu penangas.
10.4.3.  Tekan tombol start pada alat agar peniupan dimulai (±10 menit)
10.4.4.  Catat foaming sample pelumas.
10.4.5.  Ulangi untuk pengecekan foam pada suhu penangas 93.5 °C

11.     Water Separability

11.1.     Prinsip
Kemampuan minyak pelumas untuk memisahkan dari air dan menolak emulsifikasi.

11.2.     Peralatan
11.2.1.     Water Separability Tester
11.2.2.     Stopwatch

11.3.     Pereaksi
11.3.1.     Tidak ada

11.4.     Prosedur Kerja Menggunakan Water Separability tester



12.     Cold Cracking Simulator (CCS)

12.1.     Prinsip
Metode pengujian penentuan viskositas dari pelumas dan bahan dasar pelumas oleh alat Cold Cracking Simulator (CCS) pada suhu antara -5 sampai -35 °C pada tegangan geser sekitar 50000 sampai 100000 Pa dan tingkat geser sekitar 105sampai 10 4 s-1 untuk viskositas sekitar 900-25000 mPa·s.

12.2.     Peralatan
12.2.1.     Cold Cracking Simulator Tester

12.3.     Pereaksi
12.3.1.     Tidak ada

12.4.     Prosedur Kerja Menggunakan Alat CCS tester

13.     Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FT-IR)

13.1.     Prinsip
Transformasi Fourier spektroskopi inframerah (FT-IR) adalah salah satu teknik yang digunakan untuk mengukur inframerah spektrum absorpsi, emisi, fotokonduktivitasatau hamburan raman dari cairan, padatan atau gas.

13.2.     Peralatan
13.2.1.     Seperangkat Alat Fourier Transform Infrared (FT-IR)

13.3.     Pereaksi
13.3.1.     N-propana

13.4.     Prosedur Kerja Menggunakan Alat FT-IR Spectroscopy



14.     Water Content
14.1.     Prinsip
Kadar air pelumas adalah banyaknya kandungan air didalam minyak pelumas yang dinyatakan dalam satuan persen.

14.2.     Peralatan
14.2.1.     Rangkaian Alat Destilasi
14.2.2.     Pemanas Listrik
14.2.3.     Timbangan Kasar
14.2.4.     Batu didih

14.3.     Pereaksi
14.3.1.     Sample pelumas
14.3.2.     Xylol

14.4.     Prosedur Kerja
14.4.1.        Alat harus bersih dan kering
14.4.2.        Timbang ±50 gram sample pelumas dalam labu didih
14.4.3.        Tambahkan 15 gram Xylol kedalam labu didih
14.4.4.        Homogenkan dan masukan batu didih ± 3 buah
14.4.5.        Susun alat destilasi sesuai dengan urutanya
14.4.6.        Nyalahkan pompa air, alirkan air kedalam pendingin
14.4.7.        Hidupkan pemanas listrik sampai larutan didalam labu mendidih selama ± 2 jam, air dan xylol akan menguap dan masuk ke trap
14.4.8.        Setelah hasil peguapan di trap konstan, matikan pemanas listrik
14.4.9.        Tunggu ± 10 menit, dan baca Volume air pada trap
14.4.10.    Cuci semua peralatan sampai bersih
14.4.11.    Perhitungan:

Kadar air = (vol air yang terjerap / vol sampel) x 100%

DAFTAR PUSTAKA
PT. Hexindo Consult, 2000, “Prospek Industri dan Pemasaran Pelumas di Indonesia”, Jakarta.
www.ccitonline.com By: Siti Yubaidah
http://aby-alice.blogspot.com/2011/12/analisa-pelumas-mesin.html

http://23to35.blogspot.com/2014/04/TUTORIAL-market-glory-TERBARU-april-2014.html
http://23to35.blogspot.com/2014/04/gaya-berfoto-favorit-cewek-jaman.html
http://23to35.blogspot.com/2013/01/gaya-favorit-cewek-ketika-berfoto.html

Berita Terpopuler