Minggu, 07 Februari 2016

Sampah Bogor Salah Siapa ?


Kali ini 23to35.blogspot.com akan membahas permasalahan klasik soal sampah di Kota Bogor. Permasalahan ini, meski berganti rezim, selalu menjadi jadi prioritas, tapi ???... #RevolusiBogor2026





Kita coba mapping masalah yang selalu jadi 'komoditas' rutin setiap akhir dan awal tahun, yaitu isu blokade truk ke TPA Galuga.. Kenapa disebut komoditas? karena problem ini selalu dimanfaatkan oknum, kelompok tertentu dalam mengambil keuntungan. Dalih mengganggu atau mencemari lingkungan akibat keberadaan TPA Galuga, kerap dihembuskan para pencari 'komoditas' sampah. Padahal itu semua 'modus'. Pemerintah (kota/kabupaten) Bogor, sudah paham betul dengan pola-pola para pemburu rente TPA Galuga. Para pemburu rente (LSM, Ormas, Oknum Kades hingga Oknum PNS) ini, sudah ada sejak Galuga berdiri 1982, operasi 1992.

Setiap tahun, perpanjangan kontrak, Pemkot selalu didemo para pemburu rente yang berlindung atas nama warga Galuga. Macam-macam tuntutan aksinya, yang point utamanya tetap terkait pencemaran lingkungan akibat keberadaan TPA Galuga Bahkan pada 2008, yang dikomandoi oknum Kades menuntut ganti rugi Rp3,3 miliar ke Pemkot. Itu nilai kerugian sawah/ladang.

Tapi aksi2 tersebut tak sampai pada pemblokiran atau pengadangan truk. Mereka hanya aksi di depan Kantor Balaikota rezim Pemkot saat itu, semua bisa diredam dan tak meluas. Itu berlangsung hingga 2014.

Dealnya apa? Wallahualam.... Tapi sejak pergantian rezim 2014 hingga saat ini, pola-pola komunikasi dalam meredam aksi pemburu rente TPA deadlock.

Imbasnya meluas, hingga terasa ke masyarakat Kota Bogor dengan penduduk 1 juta lebih.
Truk sampah dihadang 4 hari Sebelum berakhir, para pendemo bangun tenda di tepi Jalan Dramaga untuk menghadang truk dari kota/kabupaten ke Galuga.

Ultimatum aksi bakal sepekan. Ternyata, cuma 4 hari, setelah sejumlah tim masing-masing Pemda dan pemburu rente TPA Galuga deal.

Apa saja point kesepakatannya, salah satunya kata Wali Kota Bima Arya sepakat beri kompensasi sesuai yg diminta.


Patut dikritisi :

1. Pemkot & Pemkab tunduk pd kepentingan kelompok 'pemburu rente' ini, dibanding jutaan warga


2. Gejolak penolakan TPA sudah terjadi sejak awal berdiri. Klimaksnya sejak beroperasi 1992, mulai terasa dampaknya


3. Hingga awal 2000 an aksi warga melalui LSM terencana hingga berhujung gugatan atau Law Suite Citizen PN CIbinong


4. Dikabulkanlah Law Suite Citizen itu melalui putusan No 63/PDT/G/2002/PN.Cbn tentang relokasi/penutupan TPA Galuga


5. Apakah PN Cibinong mengeksekusi? Tidak. Malah damai hingga 2005, dipersilahkan TPA Galuga beroperasi lagi


6. Perdamaian sebagai jalan tengah dan penggugat menghendaki asal pemerintah 'memperhatikan' dampak TPA Galuga


7. Imbas LawSuiteCitizen dikabulkan, Pemkot jd sapi perahan pemburu rente.Jika menolak.Truk diblokir, legalitas TPA?


8. Sepanjang tuntutannya dipenuhi lewat aksi untuk rasa di depan Balaikota. Isu yg dihembuskan cukup soal pencemaran.


9. Sejak gugatan warga dikabulkan PN, sebelum aksi para pemburu rente sudah melakukan pertemuan. Aksi lanjut, skenario 'nasi bungkus' solusi


10. Tapi jika tuntutan 'nasi bungkus' tidak sesuai saat sebelum aksi. Mulailah isu melebar hingga aksi blokir TPA


11. Semua aksi rutin para pemburu rente TPA Galuga bisa di antisipasi jika tidak melibatkan oknum Pemkot yg gemar cicipi 'manis' sampah


12. Jadi sudah terencana, setiap tahun sejak dikabulkannya gugatan oleh PN Cibinong, APBD Kota Bogor digerogoti pemburu rente TPA Galuga


13. Tahun 2016 kompensasi yang diberikan Pemkot ke Pemkab kisaran Rp600-800juta kemudian disalurkan ke warga via pemburu rente


14. Kejadian ini seharusnya tak terulang, jika Pemkot punya Good Will miliki TPA sendiri. Sehingga tidak dijadikan ATM berjalan


15. Jika belum bisa miliki TPA sendiri, antisipasi dengan mempererat komunikasi/koordinasi antar dua Muspida Kota/Kabupaten Bogor.


16. Jika koordinasi/komunikasi dua Muspida intensif, tidak akan terjadi lagi aksi blokir atau pengadangan truk sampah


17. Siapa yang salah? dua pemerintah daerah atau muspida-nya lah yang salah, bukan masyarakatnya.


Sumber : @BogorRumput

warta-bogor.blogspot.com

#RevolusiBogor2026

Dan selamat merayakan Imlek,  "gong xi fat cai"  = "Marilah Jaga kebersihan"

1 komentar :

Mau lebih seru lagi? coba pencet Ctrl + D trus klik Done/Ok !

Berita Terpopuler